Rabu, 17 Februari 2016

Mau Dibongkar, Sejumlah Kafe dan PSK Kalijodo Banting Harga

Warga yang melintasi kawasan Kalijodo pada siang hari di Jakarta, Kamis, (11/02). Ada puluhan Cafe esek - esek dan lebih dari 400 PSK yang bekerja disana. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Rencana pembongkaran kawasan Kalijodo berimbas terhadap harga kafe yang berada di lokasi prostitusi tersebut. Sejumlah kafe langsung menurunkan tarif dari biasanya alias banting harga.
"Sudah mas, kasih 100 (Rp 100.000) aja, mau pulang kampung nih," bujuk Yani, seorangPSK di Kafe Pondok Melayu 2 kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (15/2/2016).
Yani menuturkan, pada hari biasanya, kafe tempatnya bekerja yang menyediakan bir dan 'kenikmatan sesaat' ini menetapkan tarif sebesar Rp 150.000. Setelah Pemprov DKI menyosialisasikan pembongkaran kawasan tersebut, ia pun diminta sang pemilik untuk bersiap-siap pindah.
"Saya dari Tasik (Tasikmalaya) mas, kata bos siap-siap pindah," ujar wanita yang sudah bekerja 2 tahun di kafe tersebut.
Menurut Yani, teman-temannya yang lain sudah pulang kampung tadi pagi. Ia masih bertahan karena tak cukup uang untuk ongkos pulang. "4 Orang udah naik taksi tadi Mas, saya ditinggal," keluh dia.
Biasanya, dari usaha tersebut ia mendapatkan jatah sebesar 50 persen. Dari tarif normal Rp 150.000, Yani menyetor ke bos Rp 75.000 untuk kamar dan keamanan.
"Kalau hari ini katanya semua buat saya, buat persiapan pulang," ucap dia.
Pantauan Liputan6.com, Kafe Pondok Melayu 2 hanya satu-satunya tempat hiburan yang buka di deretan gang tersebut. Di ujung gang, terpampang pelang 'Majelis Taklim Al-Muttaqin' ibu-ibu di dalamnya tengah berdoa bersama.
Ibu-ibu itu tengah berdoa agar penggusuran tak terjadi. Pasalnya, mereka telah lama menggantungkan hidup di Kalijodo. Mulai dari laundry, berjualan nasi, makanan, jamu, hingga pulsa.
"Kalau ini digusur saya mau kerja apa lagi, suami saya sudah tua, anak-anak merantau jauh. Saya hanya berdagang nasi uduk di sini," ujar Lela (57) usai keluar dari acara doa bersama tersebut.
Kawasan Kalijodo tak hanya dihuni oleh para penjaja kenikmatan sesaat. Banyak warga lainnya yang bahkan sudah berkeluarga. Anak-anak mereka bersekolah di salah satu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di samping majelis taklim itu.
Untuk menandainya, rumah atau kontrakan yang ditempati masyarakat biasa ditulis pelang 'Rumah Tangga' di depan kediaman mereka.

Oleh on 15 Feb 2016 at 15:34 WIB

Jumat, 22 Mei 2015

Ini 4 Perbedaan Beras Asli dengan Beras Plastik


Bekasi, - Beras yang bercampur bahan plastik beredar di masyarakat. Jika dilihat secara sekilas memang wujud beras asli dengan plastik hampir sama, namun ada 4 ciri untuk membedakannya.

"Untuk mengidentifikasi ini secara fisik memang terlihat sama tapi bagi mereka yang sudah terbiasa mengelola beras bisa membedakannnya. Pertama, dilihat secara bentuk, tampilan beras asli memiliki guratan dari bekas sekam padi," ucap Kepala Bagian Pengujian Laboratorium Sucofindo Adisam ZN. Sucofindo adalah BUMN di bidang bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian.

Hal itu disampaikan Adisam di acara pemberitahuan identifikasi dini untuk membedakan mana beras asli dan palsu di kantor Wali Kota Bekasi, Jl Ahmad Yani, Bekasi, Kamis (21/5/2015). Acara ini dihadiri oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Ini 4 Perbedaan Beras Asli dengan Beras Plastik

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menunjukan beras bercampur bahan plastik (Foto: Aditya/detikcom)

Sementara untuk beras plastik pada bulirnya tidak terlihat guratan. Warnanya bening bersih. "Kalau beras palsu bentuknya agak lonjong dan tidak memiliki guratan dari bekas sekam padi," jelas Adisam.

Ciri kedua bisa dilihat dari ujung-ujung bulir beras. Beras asli terdapat warna putih di setiap ujungnya, warna tersebut merupakan zat kapur yang mengandung karbohidrat. Sedang beras bercampur plastik tidak ada warna putihnya.

"Selain itu kalau beras asli direndam di dalam air maka air akan bewarna putih dan beras akan lembek menjadi bubur. Sedangkan beras plastik jika direndam hasilnya tidak akan menyatu dan airnya tidak akan berubah menjadi putih di ujung-ujungya tidak ada warna putih zat kapur," ujarnya.

Ciri keempat adalah jika beras palsu ditaruh di atas kertas maka terlihat beras tidak natural, berbentuk lengkung, tidak ada patahan. "Kalau dipatahkan akan pecah menjadi bentuk kecil-kecil," ucapnya.

"Kalau beras asli bentuk bulirnya sedikit menggembung dan kalau dipatahkan hanya terbelah menjadi dua," tambahnya.

Aditya Fajar Indrawan - detikNews ,Kamis, 21/05/2015 10:40 WIB
Sumber: http://www.detik.com

Rabu, 20 Mei 2015

Myanmar Enggan Disalahkan Masalah Pengungsi Rohingya

 
Liputan6.com, Naypyitaw - Sepekan ini sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia kedatangan ribuan pengungsi Rohingya dari Myanmar. Masuknya etnis rohingya tersebut turut mendatangkan masalah baru.

Negara seperti Malaysia dan Thailand secara tegas menolak menampung pengungsi Rohingya. Sementara pengungsi yang berada di Tanah Air, beberapa dari mereka dilaporkan terserang penyakit.

Munculnya persoalan itu, membuat Organisasi HAM dan Migran internasional naik pitam. Mereka menyalahkan Pemeirntah Myanmar atas terjadinya krisis ini.

Sejumlah badan internasional pun mendesak agar Myanmar turut serta dalam perundingan masalah Rohingya. Pembahasan tingkat internasional ini rencananya dihelat pada akhir bulan Mei tahun ini di Thailand.

Mendengar negaranya disebut sebagai penyebab krisis Pemerintah Myanmar segera angkat bicara. Mereka menolak untuk disalahkan atas masalah Rohingya ini.

"Kami tidak mengacuhkan masalah imigran, Tetapi para pemimpin kami akan memustukan untuk datang dalam pertemuan (di Thailand), tergantung apa yang akan dibicarakan di sana," ucap Kepala Staf Kepresidenan Myanmar, Mayor Zaw Htay, seperti dikutip dari
 Al Jazeera, Minggu (17/5/2015).

"Kami tidak bisa menerima tuduhan bahwa Myanmar adalah sumber dari masalah ini," sambung dia.

Tidak hanya itu, selain tidak mau disalahkan, Myanmar malah menyalahkan negara tetangganya, karena tidak mau menerima pengungsi Rohingya.

"Dari sudut pandang kemanusian, sangat sedih melihat orang-orang (Rohingya) ini dipaksa keluar menuju ke lautan," ucap Zaw.

Penolakan negara-negara Asia Tenggara terhadap ribuan orang dari etnis Rohingya ini mendapat sorotan Lembaga HAM dunia. Mereka mengatakan negara-negara Asia Tenggara telah menjadikan warga Rohingya 'bola pingpong'.

Pengungsi Rohingya merupakan salah satu masalah kemanusian yang paling disorot dunia saat ini. Sebab Myanmar tempat penduduk Rohingya tinggal, menolak memberi kewarganegaraan bagi etnis tersebut.

Pada Juni dan Oktober 2012, kerusuhan bernuansa etnis pecah di negara bagian Rakhine, Myanmar. Puluhan ribu warga Rohingya kemudian meninggalkan wilayah mereka. Kekerasan etnis ini menewaskan ratusan orang dan membuat 140 ribu warga minoritas tersebut kehilangan tempat tinggal.
Rohingya tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar meski telah tinggal beberapa generasi di negara yang dulunya bernama Burma tersebut. Praktis, mereka sulit mendapatkan pekerjaan, sekolah ataupun jaminan kesehatan. (Ger/Mut).


Oleh  ,17 Mei 2015 ,16:16 WIB

Mengenai Saya

Foto saya
terusاَللّه, lagi اَللّه,dulu اَللّه